Universitas Harapan Bangsa
UHB News

UHB News


Siapa yang belum pernah mendengar istilah “generasi micin”?

Information

Date18 April 2019 8:55 am
ByAnggit Wirasto
Views110




Kesehatan

MITOS DIBALIK ISTILAH “GENERASI MICIN”

Date18 April 2019 8:55 am
ByAnggit Wirasto
Views110

Oleh : Sri Royani, M.Si. (Dosen Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UHB)

Siapa yang belum pernah mendengar istilah “generasi micin”? Semua orang, apalagi remaja milenial pasti sering mendengar atau bahkan menggunakan istilah ini. Sebutan “generasi micin” sering ditujukan kepada remaja yang melakukan sesuatu di luar batas kewajaran, cenderung konyol dan tanpa dipikir terlebih dahulu. Lantas, kenapa baru booming di era sekarang ini? Ini erat kaitanyya dengan anggapan masyarakat bahwa micin itu penyebab kebodohan. Zaman sekarang adalah zaman dimana menjamurnya makanan yang hampir menggunakan micin di setiap sajiannya.

Sebenarnya apa sih micin itu? Micin merupakan istilah lain untuk MSG (Monosodium glutamate), sebuah zat yang dapat membuat makanan menjadi lebih gurih dan lezat untuk dinikmati.  MSG adalah garam natrium dari asam glutamate. Asam glutamate adalah asam amino yang terbentuk secara alami. MSG pertama kali ditemukan pada 1908 oleh seorang Profesor di Universitas Tokyo bernama Kikunae Ikeda. Namun di akhir 1960-an, MSG mulai dianggap memberikan dampak buruk pada kesehatan. Hal ini disebabkan adanya beberapa orang yang mengeluh tak enak badan setelah makan di restoran cina. Kenapa restoran cina yang dituduh? Karena pada saat itu, restoran cina dikenal memiliki cita rasa makanan yang paling menonjol dibandingkan negara lain.

Lantas apakah benar bahwa MSG memberikan dampak buruk? Setelah peristiwa di akhir 1960-an tersebut, beberapa penelitian tidak menghasilkan bukti yang mutlak bahwa MSG berbahaya. Hanya beberapa responden penelitian yang memiliki sensitivitas tinggi, yang bereaksi, itu pun hanya jika MSG diberikan dalam dosis besar (lebih dari dua gram). Dari hasil tersebut, akhirnya badan pengawasan makanan di beberapa negara menetapkan bahwa MSG aman sebagai bumbu makanan. Namun bukan berarti MSG layak disajikan sebagai makanan cemilan ya.

So, kenapa anak-anak jaman sekarang yang cenderung bertindak konyol sering disebut dengan istilah “generasi micin”? Hal ini dikarenakan masyarakat yang sudah terlanjur memberikan cap negatif terhadap MSG yang dapat menyebabkan kebodohan. Mari kita flashback ke belakang, sewaktu Anda masih anak-anak pasti orang tua Anda sering bilang “jangan kebanyakan makan yang gurih-gurih nanti bikin bodoh”. Dan karena merasa khawatir Anda pun akan meneruskan ucapan orang tua terhadap anak Anda, atau siapa pun yang Anda kenal. Bukan begitu? Padahal, banyak faktor yang menjadi penyebab kebodohan, bukan hanya MSG.

Jika benar bahwa MSG itu berbahaya dan bisa menyebabkan kebodohan, mungkin sudah sejak dulu Badan Pengawas Obat dan Makanan di Indonesia melarang peredarannya di kalangan masyarakat. Faktanya? MSG hadir dimana-mana bahkan dengan varian rasa yang berbeda, yang tentunya membuat makanan menjadi lebih gurih dan lezat. Iklan MSG di televisi pun hadir dengan varian yang beragam, tentunya mengundang Anda sebagai konsumen untuk mencicipinya. Meskipun aman, namun bukan berarti MSG layak disantap sebagai cemilan ya. Kedudukan MSG sama seperti kedudukan bumbu masakan lainnya seperti gula, garam, merica, dll. Apakah Anda juga menjadikan merica sebagai cemilan? Tidak kan? Maka dari itu, micin bukan makanan cemilan, hanya sebatas bumbu makanan yang dosisnya perlu diperhatikan.

Ada orang yang mengklaim dirinya pusing setelah mengkonsumsi MSG. Mari kita uraikan faktanya satu per satu. Setiap orang mempunyai tingkat sensitivitas yang berbeda-beda terhadap zat tertentu, ini terkait ‘keunikan’ metabolisme tiap individu. Banyak pertanyaan yang mungkin hanya diri sendiri yang tahu jawabannya. Apakah dia memberi MSG dengan dosis yang tinggi (lebih dari  dua gram)? Apakah sebanding dengan banyaknya masakan yang dibumbui dengan MSG tersebut? Jangan sampai masakan Anda hanya satu piring kemudian dibumbui dengan MSG 1 sendok makan. Tidak begitu juga. Oleh karena itu apabila memang dirasa perlu untuk menambahkan MSG pada masakan Anda, maka tambahkanlah secukupnya. Pada dasarnya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jadi, bijaklah dalam memberi asupan makanan bagi diri Anda. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?


Prev/Next News




© 2019 - www.uhb.ac.id Universitas Harapan Bangsa - Kerjasama dengan Radar Banyumas.
Hak Cipta Dilindungi Oleh Undang-Undang

Menu